Posted: 01/01/2014 22:00
(bbc.co.uk)
Liputan6.com, Beijing : Tak terbersit pun
terbayang di benak Zheng Yanliang, bahwa suatu hari ia harus memotong
kakinya sendiri. Petani asal China itu terpaksa melakukannya karena tak
mampu membayar biaya rumah sakit untuk mendapat perawatan kakinya yang
membusuk.
Pria asal Provinsi Hebei di utara China tersebut
mengalami infeksi di kakinya tahun lalu. Sirkulasi darahnya rusak. Itu
yang membuat kondisinya makin buruk, hingga terbentuk gangren di
kakinya. Gangren adalah kondisi serius yang muncul ketika banyak
jaringan tubuh mengalami nekrosis atau mati.
Saat berobat ke
dokter, Zheng diberi tahu, ia membutuhkan operasi dan bisa kehilangan
satu kakinya. Saat itulah, pria 47 tahun itu menyadari, ia punya masalah
besar.
"Aku bertanya, berapa biaya yang diperlukan untuk operasi," kata dia, seperti dimuat BBC, Rabu (1/1/2014).
"Dokter
mengatakan, biaya operasi satu kaki mencapai 300 ribu yuan atau Rp 602
juta dan bisa mencapai lebih dari sejuta yuan atau Rp 2 miliar untuk dua
kaki. Aku sama sekali tak mampu, aku saat itu hanya punya uang 20 ribu
yuan (Rp 40 juta)," tambah dia.
Kasus Zheng, meski ekstrem,
menyoroti kelemahan dalam sistem perawatan kesehatan China, terutama
bagi mereka yang tinggal di pedesaan.
Sebenarnya, Zheng punya
asuransi medis dalam skema asuransi kesehatan pemerintah. Tapi dia harus
membayar biaya di muka dan tak semua bisa diklaim.
Menggergaji Kaki
Tak
punya uang untuk membiayai operasi, Zheng tak punya pilihan kecuali
kembali ke rumahnya di Desa Dongzang, Qingyuan. Menahan rasa sakit tak
terperi.
"Aku hanya bisa terbaring di tempat tidur lebih dari 3 bulan. Kakiku menghitam. Kulit dan dagingnya semua gelap," kata dia.
Tak hanya itu. "Ada belatung di dalam kakiku, aku bahkan bisa melihat tulangku. Membuatku muak."
Akhirnya,
Zheng yang tak lagi bisa menahan deritanya memutuskan melakukan
tindakan drastis. "Aku bilang ke istriku, aku akan menggergaji kakiku.
Ia sama sekali tak senang mendengarnya. Kami sempat berselisih paham dan
ia keluar rumah."
Lalu, hal mengerikan dilakukan Zheng. "Aku
menemukan gergaji besi di bawah tempat tidur. Juga pisau kecil. Aku
melakukannya dalam waktu 20 menit," kata Zheng.
Ia masih ingat,
betapa menderitanya saat itu. Dalam kondisi sadar, menggigit tongkat
yang dibungkus handuk kuat-kuat, menahan sakit. 'Operasi' mengerikan itu
dilakukannya April 2012, namun baru belakangan dilaporkan media China,
yang memicu debat soal ketidakadilan sistem jaminan kesehatan di China,
terutama untuk keluarga dengan penghasilan rendah.
Sejumlah orang
yang iba mendonasikan uang lebih dari 300 ribu yuan untuknya. Ia juga
mendapat tawaran perawatan kesehatan gratis. Meski telat.
"Aku tak
punya penghasilan. Aku berharap pemerintah atau rumah sakit akan
merawatku. Bagaimana kalau aku sampai sakit?," kata Zheng.
Zheng,
seperti halnya 1,3 miliar penduduk China tinggal di wilayah pedesaan.
Meski pemerintah telah mereformasi sektor kesehatan, sekitar 80 persen
layanan medis terkonsentrasi di perkotaan.
Membuat masyarakat
desa terpinggirkan. "Kami masih kekurangan dokter yang bagus dan
berkualitas. Kebanyakan mereka terkonsentrasi di kota, di rumah sakit
besar," kata Profesor John Cai, Direktur Centre of Healthcare Management
and Policy, China Europe International Business School.
"Menambah
beban petani di pedesaan seperti Zhen. Ia harus pergi ke kota besar,
harus mengeluarkan transportasi dan hotel," kata dia.
Pemerintah
menjanjikan sistem perawatan kesehatan lebih mudah diakses dan
terjangkau. Rumah sakit diminta memotong harga obat yang mahal,
menyediakan perawatan dan tes diagnostik yang tidak bikin bangkrut rumah
tangga termiskin.
Beijing ingin menyediakan perawatan kesehatan universal bagi seluruh penduduk, baik di perkotaan dan pedesaan pada 2020.
Namun,
untuk mencapainya dibutuhkan biaya mahal. Tiga kali lipat pada 2020,
yang artinya mencapai US$ 1 triliun. China harus mencari uang untuk
menutupi biaya tersebut. (Ein/Yus)
Sumber :
http://news.liputan6.com/read/789344/kisah-petani-china-yang-terpaksa-mengamputasi-kakinya-sendiri?wp.trkn