Selasa, 21 Januari 2014


Bupati Kudus : Kalo sakit di khitan, sebut nama pak bupati Musthofa".
Kudus – Bagi sebagian anak, saat khitan merupakan sesuatu yang cukup menakutkan karena identik dengan rasa sakit. Oleh karena itu, dihadapan puluhan anak yang akan di khitan pagi ini, bupati Kudus, H. Musthofa sambil bercanda memberikan ‘resep’ istimewanya. “Khitan nggak sakit kok. Kalo sakit, sebut nama pak bupati Musthofa. Pasti gak sakit lagi” ujarnya diikuti senyum dan tawa anak-anak.
Sunatan Masal Dalam  Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1435 H/2014 M

Pagi itu sekitar 46 anak berada di Masjid Agung Kudus. Mereka akan mengikuti acara khitan masal yang diselenggarakan masjid tersebut dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1435 H/2014 M. Menurut panitia, acara ini merupakan agenda tahunan dalam memperingati hari besar Islam, diantaranya adalah Maulid Nabi Muhammad SAW ini.
Sementara itu, Bupati Kudus yang hadir didampingi oleh Wakil Bupati Kudus, H. Abdul Hamid, menyampaikan harapannya agar anak-anak yang dikhitan nantinya akan melanjutkan perjuangan untuk membangun negeri ini. “Bahkan harus punya cita-cita tinggi. Boleh jadi Bupati, wakil bupati atau pejabat yang lain”, katanya.
Dirinya mengajak kepada semua yang hadir untuk bersama-sama mendoakan anak-anak yang akan berjuang untuk mengarungi masa depan. semoga menjadi anak soleh, berbakti kepada orangtua, memperkuat agama islam, dan menjadi pemimpin bangsa di kelak kemudian hari. “Semoga acara khitan ini ada manfaatnya. Terima kasih kepada pengurus masjid agung, semua pihak yang membantu, dan juga termasuk terima kasih kepada Djarum foundation atas dukungan terhadap acara ini”, ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, wakil bupati juga ikut memberikan semangat kepada anak-anak. “Beruntunglah kalian dikhitan diusia masih belia. Nabi Ibrahim saja dikhitan di usia 80 tahun”, katanya. Dirinya menjelaskan bahwa dengan berkhitan, kita mengikuti jejak Nabi Ibrahim, sebagai pemimpin umat manusia setelah melalui ujian. Maka belajarlah yang rajin, berbakti kepada kedua orang tua dan bapak ibu guru agar di masa depan kalian sukses untuk meraih masa depan dengan bekal ahlak yang baik. Sehingga dengan generasi yang baik itu, Kudus menjadi kota yang maju dengan masyarakat yang semakin sejahtera”, tutupnya.
(Humas Pemkab. Kudus)

 http://www.infoseputarkudus.com/2014/01/sunatan-masal-dalam-peringatan-maulid.html
        Hasil dari rapat musyawarah reorganisasi yang ada di RW 02 tepatnya di RT 03 terjadi Voting dengan 2 calon yaitu; 1]. bpk Rohadi  2]. bpk. Muin dari kedua calon dimenangkan Bpk Rohadi dengan suara 12 sedangkan Bpk Muin mendapat 8 suara.

        Untuk RT 02 dan RT 01 masih tetap karna tidak ada calon lain yang diusulkan sehingga dengan aklamasi dinyatakan RT. 02 Bpk. Ahmad Rozi dan RT 01 oleh Bpk Kusno. begitulah Road to reoganization RT/RW selanjutnya ke RW. 03 dan RW. 01. semoga menjadi yang lebih baik,,,,,,

Sumber : Muslikhan

Jumat, 17 Januari 2014

         Dalam pelaksanaan pergantian kepengurusan RT/ RW memang selayaknya dilaksanakan karena sudah selesai masa bakti sesuai SK kepala desa pada bulan februari tahun 2013 yang lalu, terlambatnya reorganisasi RT/ RW karena banyak faktor antara lain ada pemilihan Bupati kudus, dan ada pemilihan kepala desa sehingga maklum apabila reorganisasi ini molor.
     Rapat antara BPD dan Kepala desa beserta perangkatnya memutuskan untuk segera diadakan Reorganisasi RT/ RW ini pada bulan Januari karena disamping sudah terlambat dan banyak pertanyaan dari warga mengenai ini. Tugas dari RT/ RW yang baru nanti bisa memberikan pelayanan, ngayomi, dan sebagai tempat curhat warganya mengenai lingkungan tersebut. 
         Dimulainya pelaksanaan Reoganisasi Rt/ Rw pertama di RT 04 RW 02 dukuh samas kemaren pada hari Rabu tanggal  15 januari 2013 jam 19.00 sampai selesai tempat di musholla Nurul Huda yang dihadiri BPD, kepala desa serta perangkatnya, dengan manual acara pembukaan bapak kamdi, dilanjutkan sambutan dari bapak sudarno dan sambutan dari ketua RT 04 yang lama {bapak sutaro} dan pimpinan rapat ketua BPD bapak H. Muhyidin.. Dalam rapat tersebut ditawarkan dari pimpinan rapat 2 cara yaitu Voting dan aklamasi, dari warga mengsulkan 2 calon yaitu, bapak selamet wahyudi dan bapak nur sahid, sehingga dilakukanlah voting dengan hasil sebagai berikut; 1]. bpk. selamet wahyudi dapat suara 12 dan 2]. bpk. nursahid mendapat suara 6. akhirnya yang menjabat menjadi ketua RT 04 yang baru adalah bapak selamet wahyudi.
      Selanjutnya untuk Reorganisasi RT 03, 02, 01 pada RW 02 dilaksanakan pada malam sabtu nanti tanggal 18 januari 2013. tepatnya untuk RT 03 nanti malam dilaksanakan di Rumah bapak suparno, untuk RT 02 dan 01 dirumah bapak kosiin. semoga perjalanan atau road reorganisasi bisa berjalan dengan baik. amin,,,,,,,,,


Sumber : Muslikhan

Sabtu, 04 Januari 2014

GUBERNUR NTT FRANS LEBU RAYA SAAT MENUTUP DENGAN RESMI PELATIHAN TATA KELOLA DESA/ KELURAHAN/ BAGI PEMERINTAH DESA/ KELURAHAN/ DALAM MENDUKUNG PELAKSANAAN PROGRAM DESA MANDIRI ANGGUR MERAH DI NTT DI AULA HOTEL ROMYTA KUPANG JUMAT (17/02) MENGATAKAN/ PARA KEPALA DESA (KADES) HARUS PUNYA CITA-CITA DAN MIMPI YANG BESAR UNTUK MEMBANGUN DAN MEMAJUKAN DESANYA// DESA ITU MAJU BUKAN KARENA BUPATI ATAU GUBERNUR TAPI KARENA KADES DAN SELURUH MASYARAKAT YANG ADA DI DESA TERSEBUT// SEBAGAI SEORANG KADES HARUS MENGETAHUI DENGAN PASTI POTENSI SUMBER DAYA ALAM/ SUMBER DAYA MANUSIA DAN SUMBER-SUMBER PENDAPATAN LAINNYA UNTUK MEMBIAYAI SELURUH PROSES PEMBANGUNAN YANG ADA DI DESA//KADANG JADI KADES HANYA URUS ADMINISTRASI// SEKARANG SEORANG KADES DITUNTUT UNTUK URUS LEBIH BANYAK LAGI//

MENURUT FRANS/ KEPALA DESA (KADES) MEMPUNYAI PERAN YANG PENTING DAN STRATEGIS DALAM PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN PEMBANGUNAN DI DAERAH INI// UNTUK ITU SEORANG KADES HARUS TAHU BISA MEMBUAT RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH (RPJM) DESA YANG MEMUAT BERBAGAI PROGRAM/ KEGIATAN/ RENCANA DAN ANGGARAN YANG DIBUTUHKAN DI DESA//


FRANS MEMINTA/ PERENCANAAN DESA HARUS AKOMODIR KEBUTUHAN-KEBUTUHAN MASYARAKAT DAN BUKAN KEINGINAN-KEINGINAN MASYARAKAT YANG ADA DI DESA// UNTUK ITU BUATLAH PROGRAM YANG STRATEGIS DAN MEMBAWA MANFAAT YANG BESAR BAGI MASYARAKAT// JIKA MASIH ADA KADES YANG BELUM PAHAM DALAM MENGURUS DESANYA/ AGAR KADES TERSEBUT TIDAK PERLU MALU-MALU BERTANYA KEPADA PARA KADES YANG LAIN// KADANG-KADANG JADI PEMIMPIN SUDAH RASA HEBAT SENDIRI/ SEHINGGA TIDAK MAU BERTANYA KEPADA KADES YANG LAIN//

FRANS MENAMBAHKAN/ BERPIKIR DAN BERCITA-CITA BESAR BUKAN UNTUK MENYOMBONGKAN DIRI// TETAPI BERPIKIR BESAR ADALAH UNTUK MENEGUHKAN KOMITMEN UNTUK MEMBANGUN DAN MEMAJUKAN DAERAH INI// BEBASKAN PIKIRAN KITA DARI HAL-HAL YANG NEGATIF/ AJAR RAKYAT DI DESA-DESA UNTUK BERPIKIR BESAR DAN KELOLA PANGAN LOKAL YANG BERGIZI SEHINGGA BISA DIOLAH DAN DIKONSUMSI SECARA LEBIH BERMARTABAT//

DEMIKIAN RIFLAN HAYON REPORTER SAHABAT FM MELAPORKAN///
 
 
Sumber : http://radiosahabat.blogspot.com/2012/02/desa-maju-bukan-karena-bupati-atau.html
 
 
 
 
 

Rabu, 01 Januari 2014

Oleh Elin Yunita Kristanti

Posted: 01/01/2014 22:00
TOPIK #China
Kisah Petani China yang Terpaksa Mengamputasi Kakinya Sendiri
(bbc.co.uk)
Liputan6.com, Beijing : Tak terbersit pun terbayang di benak Zheng Yanliang, bahwa suatu hari ia harus memotong kakinya sendiri. Petani asal China itu terpaksa melakukannya karena tak mampu membayar biaya rumah sakit untuk mendapat perawatan kakinya yang membusuk.
Pria asal Provinsi Hebei di utara China tersebut mengalami infeksi di kakinya tahun lalu. Sirkulasi darahnya rusak. Itu yang membuat kondisinya makin buruk, hingga terbentuk gangren di kakinya. Gangren adalah kondisi serius yang muncul ketika banyak jaringan tubuh mengalami nekrosis atau mati.
Saat berobat ke dokter, Zheng diberi tahu, ia membutuhkan operasi dan bisa kehilangan satu kakinya. Saat itulah, pria 47 tahun itu menyadari, ia punya masalah besar.
"Aku bertanya, berapa biaya yang diperlukan untuk operasi," kata dia, seperti dimuat BBC, Rabu (1/1/2014).
"Dokter mengatakan, biaya operasi satu kaki mencapai 300 ribu yuan atau Rp 602 juta dan bisa mencapai lebih dari sejuta yuan atau Rp 2 miliar untuk dua kaki. Aku sama sekali tak mampu, aku saat itu hanya punya uang 20 ribu yuan (Rp 40 juta)," tambah dia.
Kasus Zheng, meski ekstrem, menyoroti kelemahan dalam sistem perawatan kesehatan China, terutama bagi mereka yang tinggal di pedesaan.
Sebenarnya, Zheng punya asuransi medis dalam skema asuransi kesehatan pemerintah. Tapi dia harus membayar biaya di muka dan tak semua bisa diklaim.
Menggergaji Kaki
Tak punya uang untuk membiayai operasi, Zheng tak punya pilihan kecuali kembali ke rumahnya di Desa Dongzang, Qingyuan. Menahan rasa sakit tak terperi.
"Aku hanya bisa terbaring di tempat tidur lebih dari 3 bulan. Kakiku menghitam. Kulit dan dagingnya semua gelap," kata dia.
Tak hanya itu. "Ada belatung di dalam kakiku, aku bahkan bisa melihat tulangku. Membuatku muak."
Akhirnya, Zheng yang tak lagi bisa menahan deritanya memutuskan melakukan tindakan drastis. "Aku bilang ke istriku, aku akan menggergaji kakiku. Ia sama sekali tak senang mendengarnya. Kami sempat berselisih paham dan ia keluar rumah."
Lalu, hal mengerikan dilakukan Zheng. "Aku menemukan gergaji besi di bawah tempat tidur. Juga pisau kecil. Aku melakukannya dalam waktu 20 menit," kata Zheng.
Ia masih ingat, betapa menderitanya saat itu. Dalam kondisi sadar, menggigit tongkat yang dibungkus handuk kuat-kuat, menahan sakit. 'Operasi' mengerikan itu dilakukannya April 2012, namun baru belakangan dilaporkan media China, yang memicu debat soal ketidakadilan sistem jaminan kesehatan di China, terutama untuk keluarga dengan penghasilan rendah.
Sejumlah orang yang iba mendonasikan uang lebih dari 300 ribu yuan untuknya. Ia juga mendapat tawaran perawatan kesehatan gratis. Meski telat.
"Aku tak punya penghasilan. Aku berharap pemerintah atau rumah sakit akan merawatku. Bagaimana kalau aku sampai sakit?," kata Zheng.
Zheng, seperti halnya 1,3 miliar penduduk China tinggal di wilayah pedesaan. Meski pemerintah telah mereformasi sektor kesehatan, sekitar 80 persen layanan medis terkonsentrasi di perkotaan.
Membuat masyarakat desa terpinggirkan. "Kami masih kekurangan dokter yang bagus dan berkualitas. Kebanyakan mereka terkonsentrasi di kota, di rumah sakit besar," kata Profesor John Cai, Direktur Centre of Healthcare Management and Policy, China Europe International Business School.
"Menambah beban petani di pedesaan seperti Zhen. Ia harus pergi ke kota besar, harus mengeluarkan transportasi dan hotel," kata dia.
Pemerintah menjanjikan sistem perawatan kesehatan lebih mudah diakses dan terjangkau. Rumah sakit diminta memotong harga obat yang mahal, menyediakan perawatan dan tes diagnostik yang tidak bikin bangkrut rumah tangga termiskin.
Beijing ingin menyediakan perawatan kesehatan universal bagi seluruh penduduk, baik di perkotaan dan pedesaan pada 2020.
Namun, untuk mencapainya dibutuhkan biaya mahal. Tiga kali lipat pada 2020, yang artinya mencapai US$ 1 triliun. China harus mencari uang untuk menutupi biaya tersebut. (Ein/Yus)


Sumber : http://news.liputan6.com/read/789344/kisah-petani-china-yang-terpaksa-mengamputasi-kakinya-sendiri?wp.trkn